KALIMANTAN SELATAN — Pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, memasuki babak krusial pada Sabtu (8/8/2026). Titik api yang masih terdeteksi di kawasan B29 Pusung Jantur, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, memaksa petugas mengubah strategi dari pertempuran darat ke serangan udara.
Topografi lereng yang curam dan jurang yang terjal membuat ratusan personel gabungan dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), TNI, Polri, BPBD, dan relawan tidak bisa mendekati pusat api secara langsung. Kondisi ini diperparah dengan vegetasi yang mengering, sehingga potensi munculnya bara api baru tetap tinggi meski sebagian area telah dibasahi.
Pemadaman Udara Jadi Andalan di Medan Ekstrem
Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Syarif, menyatakan operasi aerial firefighting menjadi solusi utama untuk menembus titik api yang tidak terjangkau tim darat.
"Untuk medan yang ekstrem dan sulit dijangkau tim darat, kami mengerahkan dua unit helikopter water bombing serta drone air untuk melakukan penyiraman langsung ke titik-titik api," ujar Oemar Syarif, Sabtu (8/8/2026).
Pembasahan intensif dari udara menyasar area tebing dan kawasan B29, yang dinilai paling rawan merembet. Drone air berperan untuk menjangkau celah-celah sempit yang tidak bisa dilewati helikopter, memastikan tidak ada bara yang tersisa di balik bebatuan.
Kendala Angin Kencang dan Luasan yang Terus Bertambah
Data terbaru menunjukkan kebakaran savana Bromo meluas hingga 125 hektare. Angin kencang di ketinggian menjadi faktor utama yang menyulitkan pemadaman, sekaligus mempercepat perambatan api ke area yang sebelumnya aman.
Tim gabungan di darat tetap dikerahkan untuk membuat sekat bakar dan memadamkan titik api yang lebih kecil. Namun, efektivitas mereka sangat bergantung pada hasil pembasahan dari udara yang membuka akses aman untuk masuk ke area terdalam.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pemadaman masih berlangsung. BNPB bersama BPBD setempat terus memantau pergerakan angin dan titik api melalui citra satelit untuk menentukan prioritas penyiraman selanjutnya.