Pencarian

Literasi Kesehatan Keluarga Diaspora: Cara Orang Tua di Taiwan Pantau Tumbuh Kembang Anak

Sabtu, 08 Agustus 2026 • 07:03:02 WIB
Literasi Kesehatan Keluarga Diaspora: Cara Orang Tua di Taiwan Pantau Tumbuh Kembang Anak
Para ibu diaspora Indonesia di Tainan, Taiwan, mengikuti pelatihan penggunaan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) untuk memantau tumbuh kembang anak.

KALIMANTAN SELATAN — Menjadi orang tua di perantauan punya tantangan tersendiri, apalagi saat harus memantau tumbuh kembang buah hati tanpa mudahnya akses ke fasilitas kesehatan Indonesia. Jarak geografis tidak boleh menghalangi anak-anak kita tetap tumbuh optimal, dan kabar baiknya, kini ada panduan konkret yang bisa dipelajari para ibu di mana pun berada.

Tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) baru saja menyelesaikan program edukasi kesehatan bagi 16 anggota Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Taiwan di Tainan, Taiwan Selatan. Kegiatan ini dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam mendeteksi dini gangguan perkembangan anak secara mandiri.

Bekal Praktis untuk Orang Tua di Perantauan

Program yang berlangsung pada Kamis (6/8/2026) ini bukan sekadar ceramah kesehatan biasa. Tim yang dipimpin oleh dr. M. Bambang Edi Susyanto, M.Kes., Sp.A. menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Approach (CBPA), yang artinya materi disusun berdasarkan kebutuhan nyata para peserta di lapangan.

Para ibu tidak hanya diberi teori, tetapi juga dilatih menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Alat ini sangat berguna untuk memantau apakah perkembangan si kecil sesuai dengan usianya, mulai dari gerakan motorik kasar, motorik halus, hingga kemampuan bicara dan sosialisasi.

Hasil Nyata: Skor Pengetahuan Melesat Naik

Efektivitas program ini terbukti dari hasil evaluasi. Rata-rata skor pemahaman peserta melonjak dari 67,50 menjadi 81,88, atau naik signifikan sebesar 14,38 poin. Secara statistik, peningkatan ini bermakna (p=0,008), yang berarti pelatihan ini benar-benar memberikan dampak positif pada pengetahuan para orang tua.

Selain dr. Bambang, tim pengabdian ini juga melibatkan dr. Ekorini Listiowati, M.Kes. dari Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kellyana Irawati, S.Kep., Ns., M.Kep. dari Program Studi Ilmu Keperawatan FKIK UMY, dengan dukungan penuh dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UMY.

Mengapa Kemampuan Deteksi Dini Itu Penting?

"Melalui program ini kami ingin meningkatkan pemahaman keluarga Indonesia yang tinggal di luar negeri mengenai kesehatan dan tumbuh kembang anak sehingga mereka mampu melakukan deteksi dini gangguan perkembangan secara mandiri serta mengambil keputusan yang tepat dalam menjaga kesehatan anak," ujar dr. Bambang Edi Susyanto.

Kemampuan ini menjadi bekal berharga, terutama ketika konsultasi langsung dengan dokter anak tidak semudah di Indonesia. Dengan memahami tahapan perkembangan normal anak, orang tua bisa lebih tenang dan tahu kapan harus mencari bantuan profesional jika ada keterlambatan.

Kapan Harus Lebih Waspada?

Meski setiap anak punya ritme tumbuh kembangnya sendiri, orang tua perlu waspada jika si kecil menunjukkan beberapa tanda seperti tidak bisa duduk tanpa bantuan di usia 9 bulan, belum mengucapkan satu kata pun di usia 12 bulan, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai. Jika menemukan tanda-tanda ini, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan terdekat.

Program edukasi di Tainan ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap kualitas generasi masa depan tidak mengenal batas geografis. Dari ruang pertemuan sederhana, para orang tua diaspora kini punya bekal ilmu untuk memastikan anak-anak Indonesia tetap sehat dan tumbuh optimal di mana pun mereka berada.

Follow www.kalselonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks