Kenaikan IHSG sebesar 173,52 poin dalam sepekan terakhir menjadikan bursa Indonesia sebagai pasar dengan penguatan tertinggi di kawasan Asean. Level 6.409 yang kini sudah ditembus berpotensi berubah fungsi menjadi support jika indeks mampu bertahan di atasnya, tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini.
Katalis penguatan datang dari dalam dan luar negeri. Dari domestik, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 tercatat 5,29% secara tahunan (YoY) dan inflasi Juli yang masih terkendali di level 2,88%. Dari eksternal, data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat yang terkontraksi 23 ribu—jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebesar +80 ribu—memperkuat spekulasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
Tiga saham berkapitalisasi besar menjadi penopang utama indeks. Saham DCII melonjak 7,42%, AMMN menguat 7,32%, dan BBRI naik 2,96%. Kombinasi penguatan lintas sektor ini menunjukkan partisipasi pasar yang luas, bukan sekadar pergerakan saham tertentu.
“Kami masih melihat IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 6.400–6.350 dan resistance 6.425–6.450. Secara teknikal, keberhasilan bertahan di atas 6.400 menjadi sinyal positif karena level tersebut berpotensi berubah fungsi menjadi support,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Ketiga saham tersebut dinilai memiliki ruang apresiasi yang cukup menarik jika dibandingkan dengan posisi harga saat ini. Namun, investor tetap perlu mencermati level support dan resistance yang disebutkan karena pergerakan indeks bisa berubah cepat seiring sentimen global.
Dengan ruang capital inflow yang masih terbuka dan data makro yang mendukung, peluang penguatan IHSG pada sesi perdagangan hari ini dinilai masih cukup besar. Investor disarankan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah serta perkembangan data tenaga kerja AS selanjutnya sebagai indikasi arah kebijakan The Fed.
Investasi mengandung risiko.