Pencarian

The Fed Waspadai Inflasi, Transaksi Kripto RI Tembus Rp 23,16 Triliun

Jumat, 09 Oktober 2026 • 08:38:01 WIB
The Fed Waspadai Inflasi, Transaksi Kripto RI Tembus Rp 23,16 Triliun
Nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 23,16 triliun pada Agustus 2026, naik 12,87 persen secara bulanan.

KALIMANTAN SELATAN — Nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 23,16 triliun pada Agustus 2026, naik 12,87% dibandingkan Juli, saat para pejabat Federal Reserve masih mewaspadai risiko inflasi. Jumlah konsumen pedagang aset keuangan digital dan kripto tercatat 23,21 juta orang pada periode yang sama, tumbuh 1,23% secara bulanan menurut data OJK. Dinamika suku bunga AS disebut tetap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi likuiditas dan minat terhadap aset berisiko.

Risiko inflasi yang masih menjadi perhatian The Fed tertuang dalam catatan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis 7 Oktober 2026. Dokumen tersebut merangkum rapat 15-16 September 2026 yang memutuskan kenaikan suku bunga acuan menjadi 3,75%-4,00%.

Mayoritas pejabat The Fed menilai masih terbuka kemungkinan kenaikan suku bunga satu kali lagi hingga akhir tahun. Alasannya, inflasi belum turun ke target 2%. Meski begitu, keputusan berikutnya bergantung pada perkembangan data ekonomi, dinamika geopolitik, dan keseimbangan risiko.

Pasar Kripto Tidak Bergerak dari Satu Indikator Saja

Bagi industri kripto, dinamika kebijakan The Fed bukan satu-satunya penentu arah pasar. Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menilai pergerakan aset kripto dipengaruhi banyak faktor sekaligus.

"Catatan rapat FOMC menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi perhatian The Fed. Namun, pergerakan aset kripto dipengaruhi banyak faktor, mulai dari likuiditas global, kondisi ekonomi, regulasi, hingga dinamika masing-masing aset. Karena itu, investor perlu melihat konteks yang lebih luas dan tidak bertumpu pada satu indikator ekonomi," ujar Aloysia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/10/2026).

Indodax mencatat perekonomian AS masih dianggap tumbuh solid dengan pasar tenaga kerja yang relatif stabil menjelang rapat FOMC berikutnya pada 27-28 Oktober. Perubahan ekspektasi suku bunga tetap menjadi salah satu faktor yang dicermati investor karena memengaruhi likuiditas dan minat terhadap aset berisiko.

Transaksi Indodax Naik 20% Secara Bulanan

Dari pasar domestik, OJK mencatat jumlah konsumen pedagang aset keuangan digital dan kripto mencapai 23,21 juta pada Agustus 2026. Angka itu naik 1,23% dibandingkan Juli. Nilai transaksi aset kripto pada periode yang sama mencapai Rp 23,16 triliun, meningkat 12,87% secara bulanan.

Sejalan dengan tren tersebut, volume transaksi Indodax mencapai Rp 9 triliun pada periode yang sama. Angka itu meningkat sekitar 20% secara bulanan. Aloysia menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan aset kripto domestik tetap berjalan baik di tengah dinamika kebijakan dan pasar global.

Literasi Jadi PR di Tengah Pertumbuhan Investor

Peningkatan jumlah konsumen dan nilai transaksi dinilai perlu diiringi literasi masyarakat yang memadai. Pemahaman soal karakteristik aset kripto dan manajemen risiko menjadi kunci agar investor tidak terjebak pergerakan jangka pendek.

"Melihat partisipasi masyarakat yang terus bertumbuh secara positif menunjukkan bahwa aset kripto semakin menjadi bagian penting dari perekonomian nasional. Namun, hal ini juga menjadi pengingat bahwa investor tetap perlu melakukan riset mandiri, memahami risiko, dan tidak hanya berorientasi pada pergerakan pasar jangka pendek," terang Aloysia.

Follow www.kalselonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks