BANJARMASIN — Universitas Lambung Mangkurat melalui Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling (UPA BK) menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ULM menyelenggarakan pelatihan bertema "Dari Senioritas ke Solidaritas: Pelatihan Pencegahan Kekerasan dalam Organisasi Mahasiswa". Kegiatan berlangsung di SAC 4 General Building ULM dan diikuti mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan.
Dua pembicara dihadirkan dalam forum tersebut, yakni Ir. Ahmad Syafii, S.T., M.T., IPP dan Prof. Dr. Ali Rachman, S.Pd., M.Pd. Pelatihan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya membangun budaya organisasi yang humanis, mengedepankan komunikasi setara, saling menghargai, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Mengapa Senioritas Perlu Digeser ke Solidaritas
Tradisi senioritas yang selama ini berpotensi mengarah pada perpeloncoan maupun tindakan intimidasi diarahkan sepenuhnya menjadi pola pembinaan yang konstruktif dan berbasis solidaritas kekeluargaan. Pergeseran budaya dari senioritas kaku menuju solidaritas bersama menjadi pesan utama dalam pelatihan tersebut.
Kepala UPA BK ULM, Dr. Ririanti Rachmayani Jamain, S.Pd., M.Pd, menjelaskan bahwa unit yang dipimpinnya memiliki peran strategis dalam memberikan layanan bimbingan, konseling, dan mediasi bagi sivitas akademika. Layanan itu ditujukan untuk memperkuat solidaritas antarmahasiswa.
Selain layanan pendampingan, UPA BK memberikan edukasi dan pelatihan yang mendukung perkembangan kepribadian mahasiswa agar lebih inklusif dan saling merangkul. "UPA BK memberikan layanan pendampingan konseling dan mediasi kepada sivitas akademika, termasuk melalui kegiatan pelatihan. Sasaran pada kegiatan kali ini adalah mahasiswa," ujarnya.
Organisasi Mahasiswa sebagai Ruang Belajar, Bukan Arena Intimidasi
Menurut Ririanti, organisasi mahasiswa seharusnya menjadi ruang untuk belajar, berkembang, membangun kepemimpinan, sekaligus memperkuat hubungan antarmahasiswa melalui ikatan solidaritas yang erat. Nilai kebersamaan dan kesetaraan perlu menjadi dasar utama dalam menjalankan setiap aktivitas organisasi.
"Karena itu, nilai kebersamaan dan kesetaraan perlu menjadi dasar utama dalam menjalankan setiap aktivitas organisasi, menggantikan sekat-sekat senioritas yang kerap memicu jarak," sambungnya.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan mampu menerjemahkan nilai solidaritas ke dalam praktik organisasi sehari-hari. Komunikasi yang setara dan penyelesaian masalah tanpa kekerasan menjadi dua keterampilan yang ditekankan dalam sesi pelatihan.
Harapan: Nol Perpeloncoan di Lingkungan ULM
Ketua UPA BK ULM berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menciptakan organisasi kemahasiswaan yang aman, nyaman, dan berlandaskan solidaritas bagi seluruh mahasiswa. Harapan itu disampaikan langsung pada akhir kegiatan.
"Semoga tidak ada perpeloncoan dan kekerasan di ULM, khususnya dalam kepengurusan organisasi mahasiswa," harapnya.
Pelatihan ini meneguhkan posisi ULM dalam mendorong budaya organisasi kemahasiswaan yang bebas dari kekerasan. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan diharapkan menjadi penggerak perubahan di masing-masing organisasi yang mereka geluti.