KALIMANTAN SELATAN — American Motors Corporation memperkenalkan Eagle pada 1980, kendaraan 4WD yang dibangun di atas platform sedan Concord dan dianggap sebagai cikal bakal SUV coupe modern. Model yang dirancang Roy Lunn ini memakai sasis unibody dengan ground clearance tinggi, formula yang kini dipakai Mazda CX-50 hingga Toyota C-HR. Produksinya dihentikan setahun setelah Chrysler mengakuisisi AMC pada 1987.
Roy Lunn, insinyur yang sebelumnya terlibat dalam proyek Ford Mustang dan GT40, merancang Eagle sebagai ceruk pasar baru bagi AMC. Ia mendorong perusahaan untuk memproduksi kendaraan yang memadukan kemampuan off-road dengan kenyamanan berkendara sedan, sekaligus menembus batas spesifikasi dan regulasi pemerintah saat itu.
AMC Concord, sedan yang menggantikan Hornet, menjadi basis Eagle. Sistem penggerak empat roda dengan viscous coupling dipasang, lalu bodi dinaikkan dan diberi fender flare. Kombinasi inilah yang kemudian diadopsi banyak pabrikan untuk SUV coupe masa kini.
Sasis Unibody, Bukan Body-on-Frame
Karena berbasis sedan, Eagle memakai sasis unibody, berbeda dari SUV atau pikap konvensional yang umumnya body-on-frame. Mazda CX-50 dan Toyota C-HR kini mengadopsi pendekatan serupa, sementara pikap ringan seperti Chevrolet Colorado masih setia pada body-on-frame.
Kendaraan ini punya ground clearance dan 4WD seperti SUV, tapi tetap terasa seperti mobil penumpang saat dikemudikan. AMC memang ingin Eagle dilihat sebagai sport utility vehicle, bukan sekadar mobil biasa.
Dirancang Penuhi Standar Light Truck
Eagle dibuat memenuhi spesifikasi light truck. Tujuannya menghindari aturan ekonomi bahan bakar dan emisi federal yang lebih ketat untuk kategori mobil. Sistem 4WD memang baru, tapi bagian lain diambil dari platform Concord yang sudah ada, sehingga biaya desain dan produksi bisa ditekan.
Ukurannya lebih kecil dan lebih mudah dikemudikan dibanding light truck atau SUV sejenis. Kabinnya juga lebih senyap dan karakternya mendekati mobil penumpang.
Enam Gaya Bodi dan Versi Sport SX/4
Eagle dipasarkan sebagai kendaraan serbaguna untuk jalan raya, pasir, tanah, dan salju. Iklannya bahkan menyebut konsumsi bahan bakar hingga 32 mpg pada beberapa versi. Tersedia enam gaya bodi, dari sedan empat pintu sampai notchback dua pintu.
Ada pula varian sport Eagle SX/4 dengan spesifikasi yang jauh dari kata cepat: mesin 4.2 liter inline-6 bertenaga 100 horsepower, transmisi otomatis tiga percepatan, akselerasi 0-60 mph dalam 15,6 detik, dan quarter-mile 20 detik. Kecepatan puncaknya 92 mph.
Kecepatan bukan keunggulan utama kendaraan ini. Medan berlumpur dan tumpukan salju justru jadi habitat alaminya. Kekuatannya terletak pada sistem penggerak viscous coupling yang menyalurkan tenaga ke empat roda.
Lahir dari Krisis Bahan Bakar 1970-an
Tawaran Lunn datang tepat waktu. Harga bensin melonjak selama krisis minyak dan gas dekade 1970-an, membuat konsumen mencari kendaraan lebih hemat bahan bakar. AMC terhantam gelombang impor, sementara kantong keuangannya tidak sedalam Ford, Chevrolet, atau Chrysler.
Perusahaan butuh produk yang menonjol dan berbeda. Lunn mengidentifikasi pasar baru yang belum tergarap, sebuah ceruk yang kini jadi standar industri.
Jejak yang Hilang Setelah Akuisisi Chrysler
Chrysler membeli AMC pada 1987 dan membentuk divisi baru bernama Jeep-Eagle. Setahun kemudian, produksi Eagle dihentikan. Nama divisi itu nyaris tidak pernah disebut lagi.
Subaru meluncurkan Legacy hanya setahun setelah Eagle berhenti diproduksi, lalu membangun identitas dari konsep kendaraan penumpang 4WD dan bertahan hingga sekarang. Seandainya Chrysler melanjutkan Eagle dan mengembangkan desainnya, ceritanya bisa berbeda.