KALIMANTAN SELATAN — Apple Watch 12 diklaim punya sensor detak jantung paling akurat di kelas wearable, klaim yang diuji langsung lewat perbandingan dengan chest strap Garmin HRM 600 di berbagai jenis olahraga. Hasilnya, jam ini konsisten mendekati pembacaan chest strap saat lari dan sepeda statis, tapi masih tertinggal di sesi angkat beban dan HIIT. Buat pelari dan pesepeda yang mengandalkan zona detak jantung, Apple Watch 12 layak dipertimbangkan tanpa perlu alat tambahan.
Pengujian dilakukan dengan merekam lebih dari 100 mil lari sambil memakai Apple Watch 12 di satu pergelangan dan chest strap Garmin HRM 600 yang dipasangkan ke Coros Pace 4 Pro di pergelangan lain. Selain lari, penguji menjalani dua sesi angkat beban, satu sesi HIIT bodyweight, dan satu sesi sepeda statis selama lebih dari 40 menit. Seluruh grafik detak jantung dari kedua perangkat dianalisis memakai DC Rainmaker Analyzer.
Apple Watch 12 dipakai bergantian dengan tali silikon dan nylon sport loop. Menurut penguji, akurasi tetap mirip di kedua tali, meski nylon sport loop lebih nyaman dan gampang dikencangkan untuk pembacaan yang stabil.
Kenapa Chest Strap Jadi Patokan
Chest strap dianggap standar emas pengukuran detak jantung karena membaca sinyal listrik langsung dari jantung, bukan memakai cahaya untuk mendeteksi denyut di pergelangan tangan seperti sensor optik di jam pintar. Sensor dada juga lebih cepat merespons perubahan detak jantung. Meski begitu, banyak orang lebih memilih jam pintar karena praktis dipakai, terutama saat musim dingin ketika tali dada terasa tidak nyaman menempel di kulit.
Hasil Uji Lari: Konsisten Setelah Terkunci
Dari puluhan sesi lari yang direkam, mayoritas pembacaan Apple Watch 12 mendekati chest strap. Kendala yang muncul biasanya di awal lari, ketika jam belum yakin dengan pembacaannya sehingga angka detak jantung ditampilkan abu-abu alias kosong.
Periode kosong itu selalu singkat dan tergambar sebagai garis lurus di grafik. Menariknya, Apple Watch 12 disebut lebih baik dibanding Apple Watch Ultra 4 yang pembacaannya sering kosong dalam durasi panjang selama pengujian.
Begitu sensor terkunci, pembacaan Apple Watch 12 mengikuti chest strap dengan rapat di semua lari luar ruangan, termasuk lari santai, balapan half marathon, dan beberapa sesi latihan berat. Pada satu sesi lari treadmill, kesalahan minor lebih sering muncul sehingga rata-rata detak jantung versi jam jadi sedikit lebih tinggi di akhir sesi.
Penguji mencatat masih ada lonjakan atau penurunan keliru sesekali, dan respons terhadap perubahan detak jantung cepat tidak secepat chest strap. Namun secara keseluruhan, Apple Watch 12 tetap bisa dipakai untuk menilai intensitas latihan berbasis detak jantung.
Sepeda Statis: Respons Sprint Hampir Sempurna
Pada sesi sepeda statis, penguji menyisipkan sprint 30 detik setiap lima menit untuk memaksa detak jantung naik cepat, tantangan tersulit bagi sensor optik. Apple Watch 12 merespons lonjakan dan penurunan itu dengan cepat, menghasilkan rata-rata detak jantung 109,97 bpm dibanding 109,89 bpm dari chest strap.
Grafik memang menunjukkan jam sedikit tertinggal saat interval dimulai, tapi setiap sprint berhasil terekam. Untuk penggemar spinning, sensor ini bisa diandalkan.
Angkat Beban dan HIIT: Di Sinilah Batasnya
Latihan gym jadi ujian terberat sensor optik karena gerakan saat mengangkat beban atau HIIT tidak berpola tetap, sehingga jam harus menyaring lebih banyak noise acak. Apple Watch 12 bahkan menampilkan pesan yang menyarankan pengguna menyambungkan chest strap via Bluetooth kalau pembacaan detak jantung tidak konsisten saat mode HIIT dipilih.
Di dua sesi angkat beban dengan detak jantung relatif rendah, pembacaan jam naik-turun mengikuti chest strap tapi sering tertinggal dan jarang sejajar. Jam juga melewatkan satu lonjakan kecil detak jantung. Rata-rata detak jantung akhir hanya berselisih beberapa denyut dari chest strap, dan sebagian besar lonjakan usaha tetap tercatat meski telat beberapa detik.
Pola serupa muncul di sesi HIIT bodyweight berisi sirkuit lima gerakan, tiga di antaranya lompatan seperti burpee. Penguji cukup terkesan karena setiap interval tertangkap dan naik ke level yang tepat, walau tetap tertinggal dari chest strap dan sempat menambah beberapa lonjakan keliru. Untuk HIIT dan angkat beban, chest strap atau armband masih memberi hasil lebih baik.
Verdict: Setara Jam Terbaik, Tapi Bukan Lompatan Besar
Secara keseluruhan Apple Watch 12 tampil baik, tapi penguji menilai bukan peningkatan signifikan dibanding jam lain yang pernah dipakai. Penguji yang biasanya memakai jam Garmin untuk latihan menyebut model terbaru seperti Forerunner 970 dengan sensor Elevate v5 sama andalnya, setidaknya setara Apple Watch 12.
Akurasi detak jantung Apple Watch 12 masuk jajaran wearable terbaik versi penguji. Namun kalau detak jantung jadi patokan utama untuk menilai latihan, terutama di sesi HIIT atau angkat beban, investasi chest strap masih sepadan.
Bagi pengguna di Indonesia yang berolahraga lari atau sepeda, Apple Watch 12 bisa jadi pilihan tanpa perlu membeli alat tambahan. Untuk yang rutin latihan beban dan HIIT, siapkan anggaran ekstra buat chest strap atau armband agar data detak jantung lebih rapi.