KALIMANTAN SELATAN — Stichting Massaschade & Consument (SMC) menggugat Epic Games di Belanda dengan nilai klaim melampaui €100 juta, setara sekitar Rp 2 triliun, atas dugaan Fortnite menekan mental pemain muda agar berbelanja microtransaction. Gugatan menyasar mekanisme transaksi seperti hitung mundur dan penawaran terbatas yang dinilai memicu Fear of Missing Out (FOMO). Kasus ini menambah daftar sengketa hukum Fortnite di Belanda setelah regulator ACM menjatuhkan denda pada 2024.
Fondasi gugatan SMC bertumpu pada penelitian terhadap lebih dari seribu remaja di Belanda. Enam dari 10 pembeli mata uang virtual seperti V-Bucks mengaku tidak merasakan pembelian tersebut sebagai pengeluaran uang sungguhan. Sekitar separuh responden menyatakan pernah menyesali pembelian karena tekanan waktu.
Apa yang Dipersoalkan SMC
SMC menilai pemain di bawah usia 21 tahun berhak mendapat pengembalian uang atas pembelian yang dilakukan dalam kondisi tertekan. Kelompok konsumen itu menyoroti penggunaan hitung mundur dan tampilan penawaran terbatas di Item Shop Fortnite.
Menurut SMC, kedua elemen tersebut menciptakan kesan bahwa kesempatan membeli sebuah item akan segera berakhir. SMC juga menuntut kompensasi tambahan, sehingga total nilai klaim disebut melampaui €100 juta atau sekitar Rp 2 triliun.
Bantahan Epic Games
Epic Games membantah tuduhan tersebut. Perusahaan menyatakan Item Shop Fortnite tidak menggunakan timer. Pemain di bawah 18 tahun di Belanda tidak dapat melihat atau membeli item yang tersedia kurang dari 48 jam.
Untuk pemain di bawah 16 tahun, akun yang dibuat di Belanda masuk kategori Cabined Account. Pembelian dengan uang sungguhan tidak dapat dilakukan sebelum mendapat persetujuan orang tua atau wali.
Epic juga menunjuk fitur keamanan lain seperti PIN pembelian, konfirmasi dua langkah, pembatalan pembelian langsung, pengembalian item melalui sistem mandiri, serta pilihan menyimpan informasi pembayaran.
Rekam Jejak Sanksi di Belanda dan AS
Pada 2024, regulator konsumen Belanda ACM menjatuhkan denda €1,2 juta kepada Epic terkait praktik komersial yang dinilai tidak adil terhadap anak di Fortnite. Pengadilan Rotterdam mempertahankan denda tersebut pada Januari 2026.
SMC menggunakan perkembangan itu sebagai bagian dari dasar tuntutannya. Sebelumnya, Epic juga menyelesaikan kasus melawan Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat pada 2022 senilai total US$520 juta.
Rinciannya, US$245 juta terkait sistem pembayaran dan refund, sedangkan US$275 juta menyangkut persoalan privasi anak. Penyelesaian itu mendorong Epic mengubah sistem pembayaran dan perlindungan pemainnya.
Langkah Hukum Selanjutnya
SMC telah memberikan pemberitahuan resmi kepada Epic dan membuka kemungkinan penyelesaian di luar pengadilan. Jika negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan, SMC menyatakan akan membawa perkara ini ke pengadilan.
Epic tetap mempertahankan bahwa Fortnite sudah menyediakan berbagai alat untuk membantu orang tua mengendalikan pembelian dan waktu bermain anak. Perusahaan belum memberi sinyal akan mengubah desain transaksi di luar ketentuan yang berlaku saat ini.
Gugatan ini menyentuh persoalan data pribadi anak, bukan sekadar nilai transaksi. Bagi pasar Indonesia, di mana Fortnite dan game free-to-play lain punya basis pemain muda besar, desain Item Shop dan mata uang virtual berpotensi jadi sorotan regulator konsumen ke depan.