Indonesia Lanjut Impor Minyak Rusia, Waspadai Tarif AS 100%

Penulis: Benny Surbakti  •  Kamis, 24 September 2026 | 08:36:31 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pasokan minyak mentah nasional aman, termasuk dari Rusia.

KALIMANTAN SELATAN — Indonesia memastikan pasokan minyak mentah dari Rusia tetap masuk meski Amerika Serikat mengancam tarif hingga 100% bagi negara pembeli energi Rusia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pasokan crude aman dan pengadaan akan mempertimbangkan kepastian pasokan, keekonomian, serta kepatuhan aturan.

Pemerintah menegaskan kelanjutan impor minyak mentah Rusia tidak akan mengganggu ketahanan energi nasional. Keputusan pengadaan disebut bakal berdiri di atas tiga pijakan: kepastian pasokan, aspek keekonomian, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

Bahlil Jamin Pasokan Crude Aman

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pasokan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri tidak dalam posisi terancam. Menurutnya, Rusia tetap menjadi salah satu opsi pemasok yang dipertimbangkan.

"Saya menyampaikan ketersediaan untuk crude kita insyallah aman, termasuk bagian daripada Rusia. Nanti yang teknis lainnya dari Rusia saya akan menjelaskan pada waktu yang tepat," ujar Bahlil, dikutip dari South China Morning Post, Kamis (24/9/2026).

Pernyataan itu muncul saat tekanan Washington terhadap Moskow meningkat. Presiden AS Donald Trump pada 18 September 2026 menandatangani Lindsey O. Graham Sanctioning Russia and Iran Act of 2026.

Apa Isi Undang-Undang Sanksi AS

Regulasi tersebut memberi kewenangan kepada presiden AS untuk mengenakan tarif hingga 100% terhadap barang dari negara tertentu. Sasaran utamanya adalah negara yang menjadi pembeli besar energi Rusia atau membantu menghindari sanksi internasional.

Namun, aturan itu tidak secara langsung menetapkan Indonesia sebagai sasaran tarif. Artinya, posisi Indonesia masih berada di wilayah abu-abu—tidak disebut eksplisit, tetapi tetap terekspos jika dianggap masuk kategori pembeli besar energi Rusia.

Pertimbangan Keekonomian vs Risiko Dagang

Bagi pelaku pasar energi, dilema ini bukan soal bisa atau tidak bisa membeli, melainkan soal hitung-hitungan biaya. Minyak Rusia kerap dijual dengan diskon terhadap harga acuan global, sehingga menarik dari sisi keekonomian.

Di sisi lain, risiko tarif 100% dari AS bisa memukul ekspor Indonesia ke pasar Amerika. Beberapa komoditas andalan seperti tekstil, karet, dan produk elektronik berpotensi terkena imbas jika Washington memasukkan Indonesia ke daftar sasaran.

Pemerintah menyatakan pengadaan minyak akan diputuskan dengan mempertimbangkan kepastian pasokan, keekonomian, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Formula itu memberi ruang bagi Indonesia untuk tetap membeli dari Rusia selama tidak melanggar aturan yang mengikat secara langsung.

Dampak ke Pasar Energi dan Eksportir

Keputusan melanjutkan impor dari Rusia bisa menjaga biaya energi domestik tetap terkendali. Harga bahan bakar dan listrik berpotensi lebih stabil jika pasokan crude diperoleh dengan harga kompetitif.

Sebaliknya, eksportir yang menggantungkan penjualan ke AS perlu mencermati perkembangan kebijakan ini. Setiap perubahan daftar negara sasaran tarif bisa mengubah peta daya saing produk Indonesia di pasar Amerika.

Sampai sekarang, belum ada kepastian apakah Indonesia akan masuk dalam radar kebijakan tarif tersebut. Pemerintah memilih melanjutkan impor sambil menunggu kejelasan teknis dari Washington.

Reporter: Benny Surbakti
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top