KALIMANTAN SELATAN — Timeshifter, aplikasi berbasis sains sirkadian asal New York, membantu traveler menyesuaikan diri dengan zona waktu baru tanpa tersiksa jet lag. Aplikasi ini menyusun jadwal paparan cahaya, tidur, kafein, dan melatonin yang dipersonalisasi berdasarkan usia, kronotipe, dan nomor penerbangan. Protokolnya dikembangkan bersama NASA untuk astronot yang tak punya ruang kesalahan.
Penerbangan jarak jauh kerap meninggalkan traveler dalam kondisi lelah meski sudah tidur delapan jam di kabin. Tidur bukan penyebab utamanya. Jet lag muncul karena jam internal tubuh tidak sinkron dengan waktu setempat di kota tujuan, dan solusi yang beredar selama ini dianggap keliru oleh pakar sains sirkadian.
Setiap orang memiliki jam biologis di otak bernama suprachiasmatic nucleus, kumpulan neuron yang ukurannya lebih kecil dari sebutir beras. Jam inilah yang mengatur siklus tidur dan kewaspadaan harian atau ritme sirkadian.
Martha Merrow, ahli kronobiologi dan profesor tamu kedokteran sirkadian di University of Oxford, menjelaskan bahwa setiap orang punya waktu internal masing-masing. Dua orang dengan jadwal harian sama bisa memiliki waktu internal berbeda karena faktor kronotipe, apakah tipe bangun pagi atau tidur larut.
Menurut Merrow, cahaya adalah faktor utama yang membantu jam internal menyesuaikan diri. Tidur berperan sebagai pendukung karena saat tidur mata tertutup dan paparan cahaya berkurang. Tidur di waktu yang salah justru bisa menghambat penyesuaian ritme tubuh.
Timeshifter meminta pengguna mengisi usia, jam tidur biasa, kebiasaan kafein dan melatonin, serta kronotipe. Setelah nomor penerbangan dimasukkan, algoritma aplikasi menyusun rencana yang dimulai beberapa hari sebelum keberangkatan.
Rencana itu mengatur kapan pengguna harus terpapar cahaya atau menghindarinya, kapan mengonsumsi atau menahan kafein, kapan tidur, dan kapan mengambil melatonin bila diinginkan. Pendekatan personal ini jadi pembeda karena setiap traveler punya kebutuhan berbeda.
Protokol di balik aplikasi ini awalnya dikembangkan untuk penerbang profesional yang tidak punya margin kesalahan, termasuk astronaut NASA. Steven Lockley, salah satu pendiri dan kepala ilmuwan Timeshifter, pernah bekerja sama dengan NASA saat menjabat associate professor di Harvard Medical School.
Michael López-Alegría, mantan astronaut NASA dan investor di putaran pendanaan aplikasi 2026, menyatakan tubuh manusia secara alami hanya bisa menggeser jam sirkadian sekitar satu jam per hari. Mengikuti rekomendasi berbasis sains lewat Timeshifter bisa mempercepat pergeseran itu secara signifikan.
Lockley menyebut panduan aplikasi dapat membantu pengguna menggeser ritme hingga tiga sampai empat jam per hari. Timeshifter juga masuk daftar Bright Ideas in Travel 2026 versi Condé Nast Traveler.
Merrow, yang tidak memiliki hubungan komersial dengan Timeshifter, menilai rencana yang dihasilkan aplikasi umumnya sejalan dengan prinsip sains sirkadian. Ia mengingatkan tantangan terbesarnya ada pada kepatuhan pengguna.
Contohnya, aplikasi bisa meminta pengguna tidur di sebagian besar durasi penerbangan, padahal godaan makan dan minum di pesawat sering mengganggu. Bagi traveler yang ingin mencoba, informasi tarif dan ketersediaan fitur terbaru dapat dikonfirmasi langsung lewat aplikasi resmi Timeshifter.