KALIMANTAN SELATAN — Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum menyebut, asumsi penurunan suku bunga acuan yang digunakan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) pada semester II 2025 tidak terealisasi. Realisasi ekonomi justru mendorong biaya dana di pasar meningkat, sehingga bank dipaksa beradaptasi lebih cepat dari perkiraan.
"Yang harus dilakukan adalah bagaimana kita bisa adaptasi cepat terhadap perubahan ini," ujar Yuli dalam paparan kinerja BCA Syariah semester I 2026 di Wisma 2 BCA Syariah, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Alih-alih menahan imbal hasil, BCA Syariah justru memilih menyesuaikan cost of fund untuk menjaga pertumbuhan DPK. Langkah ini dinilai taktis di tengah ketatnya persaingan memperebutkan dana nasabah.
"Pertumbuhan dana pihak ketiga tetap bisa dipertahankan. Caranya adalah paling simpel, mau tidak mau kita sesuaikan. Kita memang harus sacrifice dari cost of fund," katanya.
Keputusan ini berarti bank menanggung beban bunga lebih besar untuk menarik simpanan. Namun, manajemen menilai hal tersebut lebih baik dibandingkan kehilangan likuiditas di saat pasar sedang ketat.
Di sisi lain, kenaikan biaya dana tidak bisa dibiarkan berlarut tanpa diimbangi pendapatan. Karena itu, BCA Syariah tetap mendorong pertumbuhan pembiayaan, namun dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking).
Dengan strategi ini, bank berharap pendapatan dari penyaluran pembiayaan mampu mengkompensasi kenaikan beban bunga dana. Keseimbangan antara pertumbuhan aset dan kualitas pembiayaan menjadi fokus utama menjaga profitabilitas jangka menengah.
Perubahan asumsi makro ini menjadi pengingat bahwa dinamika suku bunga global masih menjadi variabel utama yang memengaruhi industri perbankan nasional. Bagi perbankan syariah, kemampuan menyeimbangkan kepentingan nasabah penyimpan dan kebutuhan ekspansi bisnis menjadi ujian utama di sisa tahun 2026.